Mahasiswa Magister Studi Agama Agama Melakukan Kunjungan ke Komunitas Spiritual Jawa Di Yogyakarta
Mahasiswa MSAA berfoto bersama narsumber
Gedongkiwo, Mantrijeron, Kota Yogyakarta --- Ahmad Aqif Syauqi, Mahasiswa Magister Studi Agama Agama (MSAA) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melakukan kunjungan penelitian ke kediaman Bapak Petrus Suwardanis di Jl. Prapanca No. 24, Gedongkiwo, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungan penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk mengetahui pemahaman dan penafsiran komunitas spiritual Jawa terkhusus pada penghayat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu di Yogyakarta. Ahmad Aqif Syauqi melakukan sebuah dialog dengan Bapak Petrus Suwardanis selaku ketua MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia) dan pimpinan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu di Kota Yogyakarta. Adapun tujuan dari kunjungan penelitian ini, sebagian kecil dari rangkaian tugas mata kuliah Gerakan Keagamaan Kontemporer (GKK) atau New Religion Movement (NRM) yang diampu oleh Prof. H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. finalnya dari kunjungan ini akan dijadikan sebuah karya ilmiah.
Sebagai Ketua MLKI Kota Yogyakarta sekaligus sesepuh Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu Kota Yogyakarta, Bapak Danis tidak hanya memberikan definisi, melainkan membukakan pintu "cakrawala" atas sebuah ajaran yang sering kali dianggap mistis dan tertutup. Dalam narasi beliau, Sastra Jendra bukanlah sekadar mantra kuno, melainkan sebuahepistemologi transformasi. Beliau membedah etimologi ajaran ini secara presisi:Sastrasebagai ilmu,Jendrasebagai puncak pengetahuan sang raja, danHayuningrat sebagai visi keselamatan semesta. Namun, inti dari dialog tersebut terletak pada konsepPangruwating Diyu sebuah proses aktif meleburkan watak raksasa atau angkara murka menjadi perilaku yang berbudi luhur.
Secara teoretis, pertemuan ini merupakan manifestasi dariFusion of Horizons (Peleburan Cakrawala)yang digagas oleh Hans-Georg Gadamer. Di satu sisi, terdapat cakrawala teks dan tradisi Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang dibawa oleh Bapak Danis sebagai pewaris tradisi. Di sisi lain, terdapat cakrawala Ahmad Aqif Syauqi yang datang dengan latar belakang sosiologi agama dan kerangka berpikir ilmiah.
Dalam perspektif Gadamer, pemahaman muncul ketika kedua cakrawala ini tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling menyatu. Bapak Danis menjelaskan bahwa tujuan akhir Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah menjadi "manusia sempurna" yang dekat dengan Tuhan. Di sini, peneliti tidak hanya mencatat data, tetapi mengalami proses dialektis di mana konsepDiyu (raksasa/angkara) dipahami sebagai hambatan eksistensial manusia yang harus "diruwat" atau disucikan.
Narasi Bapak Danis menunjukkan apa yang disebut Gadamer sebagaiHistorically Effected Consciousness (Kesadaran Sejarah Efektif). Ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu tetap hidup dan relevan di tengah modernitas Yogyakarta karena ia terus dipahami kembali (re-interpreted) oleh pemeluknya untuk menjawab tantangan zaman. Bagi penghayat di Yogyakarta, "meruwat diyu" di masa kini bukan berarti melawan raksasa dalam mitologi, melainkan melawan egoisme dan ketidakteraturan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Kunjungan penelitian ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa Sastra Jendra bukanlah sebuah artefak sejarah yang statis. Melalui dialog yang terjadi di Gedongkiwo, kita melihat bagaimana sebuah tradisi keagamaan lokal mampu menjaga "keselamatan dunia" (Hayuningrat) melalui transformasi internal subjeknya. Perjalanan Aqif Syauqi ini bukan sekadar pengumpulan data untuk tugas Prof. H. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D., melainkan sebuah pembuktian bahwa kebenaran dalam studi agama ditemukan melalui dialog yang jujur dan keterbukaan untuk saling memahami cakrawala orang lain.
Penulis : Ahmad Aqif Syauqi