Magister Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga Gelar Kuliah Umum dan Bedah Buku Filologi Judeo-Arab

Program Studi Magister Studi Agama-Agama (MSAA), Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, berkolaborasi dengan Suka PRESS dan Program Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (MIAT), menyelenggarakan Kuliah Umum dan Bedah Buku Filologi Judeo-Arab serta Diskusi Genealogi Kenabian dalam Wacana Intertekstualitas Al-Qur'an dan Kitab-Kitab Terdahulu. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2026 di Convention Hall (CH) UIN Sunan Kalijaga ini menghadirkan forum akademik lintas disiplin yang mempertemukan kajian filologi, studi agama, dan studi Al-Qur'an untuk mendiskusikan hubungan teks-teks keagamaan dalam tradisi Abrahamik. Acara ini menghadirkan Menachem Ali sebagai penulis buku, Mun'im Sirry sebagai pembedah, serta Lien Iffah Naf'atu Fina sebagai penanggap.

Dalam pemaparannya, diskusi menyoroti pentingnya pendekatan filologi Judeo-Arab sebagai jalan untuk memahami dinamika transmisi pengetahuan, sejarah intelektual, serta intertekstualitas antara Al-Qur'an dan kitab-kitab terdahulu. Para narasumber mengajak peserta melihat bagaimana naskah-naskah klasik berbahasa Judeo-Arab membuka ruang baru bagi kajian genealogi kenabian, sejarah tafsir, serta relasi antara tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa studi agama kontemporer memerlukan pendekatan multidisipliner yang tidak hanya bertumpu pada pembacaan normatif, tetapi juga memperhatikan aspek historis, linguistik, dan budaya dalam memahami perkembangan tradisi keagamaan.

Bagi Program Studi Magister Studi Agama-Agama, penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan ruang dialog akademik yang terbuka, kritis, dan berwawasan global. Kolaborasi dengan berbagai mitra akademik diharapkan mampu memperkuat budaya riset serta memperluas perspektif mahasiswa dalam mengkaji agama sebagai fenomena yang kompleks dan saling berinteraksi. Melalui forum seperti ini, MSAA UIN Sunan Kalijaga terus mendorong lahirnya generasi akademisi yang mampu mengembangkan kajian keagamaan secara interdisipliner, inklusif, dan relevan dengan perkembangan isu-isu keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.