Kajian Studi Tokoh dalam Studi Agama Agama I: Analisis Elenktik bagi Studi Agama-agama





Kajian Studi Tokoh dalam Studi Agama-Agama ini diinisiasi oleh Forum Magister Studi Agama Agama, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kajian ini akan diselenggarakan dalam beberapa seri dengan jangka waktu setiap bulannya. Awal kajian diadakan pada Selasa, 24 Agustus 2021 dengan judul Analisis Elentik Bagi Studi Agama-Agama oleh Dr. Ustadzi Hamzah. Ustadzi memulai penjelasanya bahwa studi agama tidak hanya diartikan sebagai perbandingan agama yang tujuannya untuk membandingkan satu agama dengan yang lainnya, melainkan upaya untuk memadukan antara perbandingan agama (comparative studies) dengan kajian Islam (islamic studies). Analisis Elenktik memungkinkan untuk mengkaji antara keduanya; Islamic studies dan Comparative studies, karena dinamika integrasi interkoneksi khususnya di UIN Sunan Kalijaga adalah lapisan yang tidak terlepas dalam pembelajaran di dalamnya.
Metode elentik adalah metode filsafat/ kefilsafatan yang dikembangkan oleh Socrates (Socratic method). Metode ini merupakan metode wajib atau dasar pada IAIN (nama sebelum menjadi UIN) dan diperkaya dengan kajian Plato. Istilahnya diambil dari Yunani, elenkos atau elechus yang kemudian dikembangkan oleh Gregory Vlastos. Dalam arti kebahasaan istilah ini memiliki arti yaitu mengendalikan atau mengontrol, sangat terkait dengan asumsi dasar yang sering dipakai untuk filsafat moral, tindakan/ perilaku untuk tidak asal menilai sekilas. Arti lainnya yaitu Erevno, berarti mencari yang ada dalam proses mengendalikan yang dimulai dari mencari pada objek tindakan. Arti selanjutnya yatu Zito-ereto yang berarti menemukan, inquiring, menggali atau menemukan aspek-aspek yang akan dijadikan objek tindakan. Dengan kata lain yaitu Investigating yang menggambarkan suatu pola atau objek yang tidak langsung menjatuhkan suatu penilaian atau kesimpulan langsung, tetapi melakukannya dengan rangkaian proses. Arti terakhir adalah Skeptomai. Skeptomai adalah rangkaian dalam menyimpulkan suatu objek dari tindakan. Dari pengertian diatas Elenkos adalah sebuah argumen untuk membuktikan, mempertemukan dengan proses-proses yang lainnya dengan perspektif yang berbeda. Hal ini merupakan paradigma awal dari Elenkos.
Hal pertama yang harus dilakukan dalam penerapannya secara metodologis adalah adanya objek materiil yang akan dijadikan sasaran untuk dianalisis, ada proses pemetaan bidang kajian, darinya terdapat fokus yang lebih spesifik, kemudian analisis terhadap objek yang permasalahannya sudah terperinci. Terdapat beberapa langkah dalam analisis elentik ini, antara lain; a) deskripisi emik: mendeskripsikan kondisi senyatanya dari objek kajian, berbeda dengan deskripsi etik yang analisisnya menggunakan pola pikir atau asumsi, fokus deskripsi emik adalah menjelaskan objek apa adanya; b) analisis sumber otoritatif dengan menggunakan refrensi yang sesuai dengan objek kajian. c) scrutimize yaitu menganalisis konteks yang relevan dengan objek dan menjadi dasar untuk justifikasi analisis (analisis dari inter-perspektif). Penjelasan ini adalah langkah-langkah nalisis internal yang dilakukan dalam proses analisa elenktik dalam melihat fenomena dan selanjutnya dilanjutkan dengan analisis eksternal (secara antar perspektif).
Tidak kalah penting dalam analisis elentik adalah pemetaan objek materiil kajian. Pada langkah ini dapat digunakan pemikiran Joachim Wach yang menjelaskan cakupan studi agama, seperti idea yang berupa gagasan, action berupa perilaku dan fellowship yang merupakan bentuk dinamika dalam umat beragama (tokoh, symbol, dll). Tidak semua dari ketiga klaster diatas digunakan, melainkan disarankan bagi peneliti untuk memilih salah satu fokus analisis. Cara kerja dari analisis ini yakni; menggambarkan objek apa adanya, menganalisis kitab suci dan interkoneksi antar perspektif keilmuan. Comparative religion diterapkan dalam cara kerja terakhir ini, yaitu dengan membangun integrasi interkonektif (multiple perspective).
Terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para peserta, antara lain; A) Ahmad Sugeng Riady bertanya; sejauh mana analisis ini untuk melihat kasus-kasus dalam studi agama adakah syarat atau hal khusus? Jawaban; tidak ada, bisa digunakan untuk menjelaskan semua agama karena merupakan sebuah metode. B) Iqtmar Muhammad bertanya; analisis ini terbilang baru, namun disisi lain bahwa metode ini meurpakan ilmu yang sudah dikaitkan dengan ilmu-Ilmu lainnya. Saya kurang dapat memahami bagaimana penerapannya? seperti tradisi burong di aceh lebih ke fenomenologis, Apa karakter spesifik dengan fenomenologi? Juga analisis ini cenderung ke analisis kesejarahan? Jawaban; Elenktik dibangun dari fenomenologi, kalau gagasan kita analisis secara emik, jika jemaat atau penduduk di analisis secara emik. Proses epoche diaplikasikan dalam fenomenologi, belum dikombinasikan dengan analisis-analisis yang lainnya. Tidak harus sejarah, tetapi bisa menghadirkan analisis sejarah dalam analisis elentik dalam menjelaskan suatu konsep keagamaan. C) Sulaiman Basyir bertanya: kita menganalisis dan mengkaitkannya dengan Islam. Skripsi saya membahas tentang agama Baha’i. Jika membawa agama islam, jatuhnya menghakimi dan mendakwahi agama lain. sedangkan menjadi antropologi harus masuk ke dalam. maka semua data jika di analisis dengan agama Islam akan salah. Pertanyaannya bagaimana memposisikan diri sebagai umat beragama tapi posisi kita memiliki agama lain? Jawaban; menjelaskan agama lain, yang diyakini, yang disadari secara emik (dalam pencarian data) ada landasan otoritatifnya, kita hadirkan perspektif dari yang lainnya. Harus objektif betul tidak ada subyektifitasnya sama sekali. Analisis nya bukan berarti menghakimi dalam pembenturan dan tidak menyalahi akan tradisi tersebut. Kita dalam SAA diparadigmakan untuk menyajikan berbagai perspektif dan tidak ada unsur subjektifitas dalam melihat agama lain.