Dialog Damai Mahasiswa S2 Muslim–Kristen Bahas Pinjol dalam Perspektif Agama dan Sosial

Yogyakarta, 17 Oktober 2026 — Mahasiswa Program Magister Studi Agama-Agama (MSAA) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Berita Hidup menggelar Dialog Damai Mahasiswa S2 Muslim–Kristen bertajuk “Pinjol: Dosa, Kebutuhan, atau Persoalan Sosial?” pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 10.00–11.30 WIB secara daring melalui Zoom. Kegiatan ini menjadi ruang dialog lintas iman untuk membahas fenomena pinjaman online (pinjol) melalui perspektif agama dan sosial.

Dialog ini mengangkat persoalan pinjol yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Fenomena tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan ekonomi dan akses pembiayaan, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab moral, tekanan sosial, serta dampaknya terhadap kehidupan individu dan keluarga. Melalui tema ini, peserta diajak melihat persoalan pinjol secara lebih komprehensif, tanpa terburu-buru menempatkannya semata-mata sebagai persoalan dosa atau kesalahan individu.

Diskusi menghadirkan dua pemantik, yaitu Dewi Retno Sari, mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Sugito, mahasiswa S2 STT Berita Hidup. Kedua pemantik diharapkan dapat menghadirkan perspektif yang saling melengkapi dalam memahami persoalan pinjol berdasarkan pengalaman dan kerangka pemikiran keagamaan masing-masing. Dialog ini juga membuka ruang bagi peserta untuk bertukar pandangan mengenai tanggung jawab etis, solidaritas sosial, literasi keuangan, dan pentingnya dukungan terhadap masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi.

Penyelenggaraan Dialog Damai Mahasiswa S2 Muslim–Kristen merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi dan kerja sama lintas iman melalui pembahasan persoalan konkret dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tradisi keagamaan tidak menjadi penghalang untuk mendiskusikan persoalan bersama, melainkan menjadi kesempatan untuk menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memperkuat kepedulian, penghormatan, dan perdamaian.

Melalui dialog ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan sikap kritis dan empatik dalam merespons persoalan sosial. Pembahasan pinjol tidak berhenti pada penilaian moral, tetapi juga mendorong perhatian terhadap faktor ekonomi, kerentanan sosial, dan tanggung jawab bersama dalam mencari solusi. Dengan demikian, dialog lintas iman menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan kajian agama dengan realitas masyarakat sekaligus memperkuat semangat toleransi dan perdamaian di tengah keberagaman. etis, solidaritas sosial, literasi keuangan, dan pentingnya dukungan terhadap masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi.

Penyelenggaraan Dialog Damai Mahasiswa S2 Muslim–Kristen merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi dan kerja sama lintas iman melalui pembahasan persoalan konkret dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tradisi keagamaan tidak menjadi penghalang untuk mendiskusikan persoalan bersama, melainkan menjadi kesempatan untuk menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memperkuat kepedulian, penghormatan, dan perdamaian.

Melalui dialog ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan sikap kritis dan empatik dalam merespons persoalan sosial. Pembahasan pinjol tidak berhenti pada penilaian moral, tetapi juga mendorong perhatian terhadap faktor ekonomi, kerentanan sosial, dan tanggung jawab bersama dalam mencari solusi. Dengan demikian, dialog lintas iman menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan kajian agama dengan realitas masyarakat sekaligus memperkuat semangat toleransi dan perdamaian di tengah keberagaman.